Keterangan foto:Ilustrasi momen refleksi diri dalam menemukan makna spiritual melalui kehidupan sehari-hari.
Kawanindonesia.web.id–Pemahaman tentang spiritualitas tidak selalu harus melalui kajian yang rumit dan penuh teori.
Dalam praktiknya, banyak orang justru menemukan makna kedekatan dengan Tuhan melalui pengalaman sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini tergambar dari kisah reflektif yang dibagikan oleh seorang pejalan spiritual, Karto Glinding.
Ia menekankan bahwa pengalaman empirik sering kali lebih mudah membawa seseorang pada kesadaran batin dibandingkan pemikiran yang terlalu mengandalkan nalar.Karto menceritakan,
pengalaman kecil seperti gangguan kesehatan ringan justru mampu membuka kesadaran tentang keterbatasan manusia.
Dalam kondisi tersebut, manusia secara spontan mengingat Tuhan dan memohon pertolongan-Nya.
Dari situlah muncul kesadaran bahwa manusia tidak memiliki kuasa penuh atas dirinya sendiri.“Dari hal-hal sederhana,
kita bisa merasakan bahwa Tuhan selalu dekat. Tinggal bagaimana kita mau menyadarinya,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak mengabaikan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan modern.
Menurutnya, kesibukan dan ketergantungan pada logika sering membuat manusia menjauh dari kesadaran akan peran Tuhan dalam setiap aspek kehidupan.
Lebih lanjut, Karto menjelaskan bahwa tradisi spiritual Timur menekankan pencarian ke dalam diri, yaitu
melalui hati, batin, dan jiwa. Berbeda dengan pendekatan Barat yang kerap mencari makna melalui eksplorasi alam luar,
“pendekatan ini mengajak manusia untuk memahami dirinya sebagai bagian dari ciptaan Tuhan.
Ia mencontohkan, rasa syukur atas hal-hal kecil seperti makanan sederhana atau kesehatan tubuh menjadi bagian penting dalam perjalanan spiritual.
Dengan membiasakan diri bersyukur, seseorang dapat membangun hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan.
Menurutnya, rasa syukur tidak hanya sebatas ucapan, tetapi juga harus diwujudkan dalam sikap hidup sehari-hari.
Dengan demikian, spiritualitas tidak lagi menjadi sesuatu yang jauh dan sulit dijangkau, melainkan hadir dalam setiap aktivitas manusia.
Melalui refleksi tersebut, Karto mengingatkan bahwa inti dari laku spiritual terletak pada kesadaran dan rasa syukur.
Dari hal-hal yang tampak sepele, manusia justru dapat menemukan makna besar tentang kehidupan dan kedekatannya dengan Sang Pencipta.(Kontributori Banten yacob)

