Keterangan foto:Webinar puisi spiritual Komunitas Satu Pena Jatim dorong kebangkitan sastra religius di Indonesia.
Kawanindonesia.id//Komunitas Satu Pena Jawa Timur mendorong kebangkitan puisi spiritual di Indonesia dengan menggelar webinar nasional pembacaan puisi bertema religius.
Kegiatan ini memanfaatkan momentum berdekatan tiga hari besar keagamaan, yakni Nyepi, Ramadan hingga Idulfitri, serta menjelang Paskah.
Penggagas kegiatan, Akaha Taufan Aminudin, menyatakan bahwa webinar ini menjadi ruang ekspresi sekaligus refleksi batin bagi para penyair dari berbagai daerah.
Ia menegaskan bahwa karya sastra, khususnya puisi, memiliki peran penting dalam memperkuat nilai spiritual di tengah kehidupan modern yang serba cepat.
“Kami ingin mengajak para penyair untuk kembali menyentuh sisi terdalam kemanusiaan melalui puisi. Spiritualitas menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban yang lebih beradab,” ujar Akaha dalam keterangannya.
Ia menjelaskan, kegiatan ini tidak hanya menghadirkan pembacaan puisi, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi dan konsolidasi antar penyair.
Komunitas Satu Pena Jatim membuka partisipasi bagi berbagai sanggar, komunitas, hingga individu penyair dari seluruh Indonesia.
Menurutnya, meningkatnya minat terhadap puisi religius menunjukkan adanya kesadaran baru di kalangan sastrawan.
Mereka merespons dinamika zaman dengan menghadirkan karya yang tidak hanya estetis, tetapi juga sarat makna spiritual.
Tradisi puisi religius di Indonesia sendiri telah berkembang sejak lama.
Sejumlah tokoh besar seperti Sutardji Calzoum Bachri dan Umbu Landu Paranggi telah meletakkan fondasi kuat bagi perkembangan sastra yang mengedepankan kedalaman makna.
Sementara itu, budayawan Emha Ainun Nadjib terus memperluas jangkauan puisi spiritual melalui berbagai forum budaya dan keagamaan yang melibatkan masyarakat luas.
Webinar ini juga diharapkan dapat menghidupkan kembali jejaring lama seperti Himpunan Penulis Pengarang Penyair Nusantara (HP3N) yang pernah menjadi wadah berhimpunnya para penyair dari berbagai daerah.
Sejumlah nama seperti Joko Pinurbo dan Isbedy Stiawan disebut sebagai bagian dari generasi yang turut mewarnai perkembangan sastra Indonesia.
Selain itu, karya-karya puisi religius dari penyair Indonesia dinilai tetap relevan hingga kini. Puisi seperti “Doa” karya D.
Zawawi Imron hingga “Sajadah Panjang” karya Taufiq Ismail menjadi bukti kuat bahwa sastra mampu menyentuh dimensi spiritual masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Komunitas Satu Pena Jatim berharap puisi spiritual tidak hanya berkembang sebagai karya sastra,
tetapi juga menjadi medium refleksi yang mampu memperkuat nilai toleransi, kedamaian, dan kedekatan manusia dengan Tuhan.
Webinar nasional ini dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat dan terbuka untuk umum, dengan harapan dapat menjangkau lebih banyak penyair serta pecinta sastra di seluruh Indonesia.( Kontributor yacob)
