Keterangan foto:Jacob Ereste kritik aksi sosial yang diduga bermuatan pencitraan pribadi.
Kawanindonesia.id – Pengamat sosial Jacob Ereste mengungkap dugaan adanya motif pencitraan di balik maraknya kegiatan sosial yang belakangan kian sering digelar.
Ia menilai, sejumlah aksi yang mengatasnamakan kepedulian justru dimanfaatkan untuk mengangkat popularitas pribadi atau kelompok tertentu.
Jacob menegaskan, kegiatan sosial semestinya berangkat dari nilai empati dan solidaritas, bukan sekadar alat untuk membangun citra.
Menurutnya, praktik tersebut tampak dari pola penyelenggaraan kegiatan yang lebih menonjolkan publikasi dibanding substansi manfaat bagi semua pihak yang terlibat.
Ia juga menyoroti minimnya apresiasi terhadap para pekerja dan personel pendukung dalam kegiatan sosial.
Padahal, mereka berperan besar dalam menyukseskan seluruh rangkaian acara, mulai dari penggalangan dana hingga distribusi bantuan.
“Banyak kegiatan sosial yang terlihat megah di permukaan, tetapi mengabaikan mereka yang bekerja di balik layar. Ini menunjukkan adanya ketimpangan dalam menghargai kontribusi,” ujarnya dalam keterangannya, 17 Maret 2026.
Lebih lanjut, Jacob menekankan pentingnya pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) dan bingkisan sebagai bentuk penghargaan nyata terhadap pekerja.
Ia menilai, langkah tersebut tidak hanya mencerminkan kepedulian, tetapi juga menjaga keseimbangan dalam hubungan kerja.
Menurutnya, tanpa adanya apresiasi yang layak, hubungan kerja berpotensi timpang dan cenderung merugikan pihak yang berada di posisi lebih lemah.
Bahkan, ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut dapat membuat pekerja merasa hanya dimanfaatkan tanpa mendapatkan penghargaan yang sepadan.
Jacob pun mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam menilai berbagai kegiatan sosial yang berkembang saat ini.
Ia berharap, nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi dasar utama, bukan sekadar kepentingan popularitas atau ambisi pribadi.
“Solidaritas sosial harus dibangun secara adil dan berimbang. Jangan sampai kegiatan yang mengatasnamakan kemanusiaan justru kehilangan makna karena kepentingan tertentu,” tegasnya.(Kontributor jacob)
