Surabaya,kawanindonesia.id 5 Januari 2026 — Anggota Komisi X DPR RI Daerah Pemilihan Jawa Timur I (Surabaya–Sidoarjo), Reni Astuti, mendorong penguatan inklusivitas di dunia kerja bagi penyandang disabilitas usai peresmian SLB-B Negeri Karya Mulia Surabaya.
Ia menegaskan bahwa pendidikan inklusif harus diikuti dengan terbukanya akses kesempatan kerja agar lulusan SLB dapat hidup mandiri dan berdaya.
Reni Astuti hadir langsung dalam acara peresmian SLB-B Negeri Karya Mulia Surabaya yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Sekolah tersebut resmi menjadi Sekolah Luar Biasa (SLB) negeri pertama di Kota Surabaya dan diharapkan menjadi tonggak penguatan pendidikan inklusif di Jawa Timur.
Menurut Reni, peresmian SLB-B Negeri Karya Mulia tidak hanya menjadi simbol penguatan akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus,
“tetapi juga harus menjadi pintu masuk bagi upaya serius mempersiapkan lulusan SLB agar terserap di dunia kerja.
“Anak-anak berkebutuhan khusus memiliki potensi dan keterampilan yang luar biasa. Setelah mereka mendapatkan pendidikan yang layak,
“negara dan masyarakat harus memastikan adanya ruang di dunia kerja agar mereka dapat berkarya dan hidup mandiri,” ujar Reni Astuti.
Ia menilai, berbagai program keterampilan dan vokasi yang dikembangkan di SLB, termasuk di SLB-B Negeri Karya Mulia, merupakan modal penting bagi peserta didik.
Oleh karena itu, dukungan dunia usaha dan instansi pemerintah sangat dibutuhkan untuk menciptakan ekosistem kerja yang inklusif dan ramah disabilitas.
Reni juga mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang mengambil alih pengelolaan SLB Karya Mulia dari yayasan swasta menjadi sekolah negeri.
Menurutnya, langkah tersebut membuka peluang dukungan yang lebih kuat, baik dari sisi kebijakan, pendanaan, maupun pengembangan sumber daya pendidik.
“Pengelolaan oleh pemerintah akan memperkuat kualitas layanan pendidikan inklusif. Namun,
tujuan akhirnya adalah kemandirian peserta didik, termasuk kesiapan mereka memasuki dunia kerja,” tegas politisi Fraksi PKS tersebut.
Selain itu, Reni mendorong agar kurikulum keterampilan di SLB terus disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja dan perkembangan industri.
Kolaborasi antara sekolah, dunia usaha, dan pemerintah dinilai penting untuk menjembatani lulusan SLB dengan lapangan pekerjaan yang sesuai.
“Kolaborasi lintas sektor harus diperkuat agar keterampilan yang diajarkan benar-benar relevan dan dapat diterapkan di dunia kerja,” tambahnya.
Peresmian SLB-B Negeri Karya Mulia Surabaya juga dihadiri oleh sejumlah pejabat daerah dan pemangku kepentingan pendidikan.
Selain meresmikan sekolah, Pemerintah Provinsi Jawa Timur turut menyalurkan berbagai bantuan bagi murid berkebutuhan khusus sebagai bagian dari komitmen pendidikan ramah disabilitas.
Reni Astuti berharap, peresmian SLB-B Negeri Karya Mulia dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengembangkan pendidikan inklusif yang berkelanjutan,
sekaligus mendorong terciptanya dunia kerja yang lebih terbuka dan inklusif bagi penyandang disabilitas.
“Pendidikan inklusif harus berujung pada kemandirian dan kesejahteraan.
Dengan dukungan semua pihak, anak-anak berkebutuhan khusus dapat berkontribusi secara optimal bagi masyarakat dan bangsa,” pungkasnya.(Lia)

