Kawanindonesia.id,// Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi PKS, Dr. H. Puguh Wiji Pamungkas, MM, mendorong pembentukan Badan Koordinasi Vokasi Jawa Timur sebagai langkah strategis
untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) dan menekan angka pengangguran.
Menurut Puguh, Jawa Timur memiliki potensi besar dalam pengembangan pendidikan dan pelatihan vokasi.
Namun, hingga kini berbagai lembaga pelatihan kerja masih berjalan secara parsial tanpa koordinasi terpadu.
“Jawa Timur punya dua BPVP milik Kementerian Ketenagakerjaan, 16 BLK milik Pemprov, serta puluhan BLK komunitas.
Potensinya sangat besar, tetapi perlu satu orkestrasi kebijakan agar seluruhnya bergerak dalam satu arah,” ujarnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Timur pada Februari 2025 tercatat 3,61 persen.
Sementara pada Agustus 2025 sebesar 3,88 persen. Meski secara persentase relatif lebih baik dibanding beberapa provinsi lain di Pulau Jawa,
“jumlah pengangguran masih mencapai sekitar 894,5 ribu orang dari total angkatan kerja 24,76 juta orang.
Puguh menilai, tantangan ketenagakerjaan saat ini tidak hanya soal jumlah lapangan kerja,
“tetapi juga persoalan kesenjangan keterampilan (skill mismatch) antara lulusan pelatihan dan kebutuhan industri.
“Generasi muda kita adaptif terhadap teknologi dan ingin pembelajaran yang praktis.
Sementara industri membutuhkan kompetensi yang spesifik dan berstandar tinggi.
Di sinilah pentingnya koordinasi agar kurikulum dan pelatihan benar-benar sesuai kebutuhan pasar kerja,” jelasnya.
Ia menegaskan, Badan Koordinasi Vokasi Jatim nantinya berperan menyelaraskan program pusat, provinsi, dan kabupaten/kota,
“termasuk menyusun roadmap kompetensi daerah berbasis data industri. Selain itu,
“badan tersebut diharapkan menjadi forum kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan komunitas pelatihan.
Puguh juga mendorong digitalisasi sistem pelatihan melalui platform daring untuk memperluas akses,
“terutama bagi generasi muda di daerah terpencil. Menurutnya, transformasi digital dalam sektor vokasi menjadi kunci
untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja di tengah era disrupsi dan persaingan global.
“Vokasi bukan sekadar pelatihan kerja, tetapi investasi jangka panjang bagi masa depan ekonomi Jawa Timur.
Jika dikelola secara terkoordinasi dan berbasis kebutuhan industri, kita bisa mencetak SDM yang kompetitif, adaptif, dan siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya.(Len)

