Keterangan foto Abdul Fikri Faqih minta Badan Riset dan Inovasi Nasional atasi krisis air Tegal dan bangkitkan industri logam.
Kawanindonesia.id — Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) segera menangani krisis air bersih di lokasi bencana tanah bergerak di Padasari, Jatinegara, Kabupaten Tegal.(28/02/26)
Ia juga mendesak pemerintah pusat dan daerah mengambil langkah nyata untuk membangkitkan industri logam Jawa Tengah yang kini mengalami kemunduran serius.
Fikri menyampaikan permintaan tersebut saat melaksanakan Kunjungan Kerja Reses Komisi X DPR RI di Gedung Setda Kabupaten Semarang, Ungaran.
Ia meninjau langsung kebutuhan korban bencana dan menerima laporan mengenai minimnya sumber air di kawasan pembangunan hunian sementara (huntara).
Fikri langsung menghubungi Kepala BRIN, Arif Satria, dan meminta dukungan mesin Air Siap Minum (Arsinum).
Ia menegaskan BRIN harus memprioritaskan pengiriman mesin penjernih air mobile yang mampu memproduksi hingga 10.000 liter air bersih per hari serta mengolah air keruh menjadi layak konsumsi sesuai standar Kementerian Kesehatan.
“Kebutuhan air bersih tidak bisa ditunda. BRIN harus segera menghadirkan solusi konkret agar warga terdampak memperoleh akses air minum yang aman dan memadai,” tegas Fikri.
Selain fokus pada penanganan krisis air, Fikri menyoroti kondisi industri logam Tegal yang kini mengalami mati suri.
Ia menyebut sekitar 70 hingga 80 persen industri rumahan berhenti berproduksi akibat kurangnya pendampingan riset dan inovasi, khususnya dalam pengembangan ilmu material.
Fikri menilai pemerintah harus memperkuat dukungan riset terapan, membuka akses pembiayaan, serta melindungi pasar industri lokal agar pelaku usaha mampu bersaing.
Ia juga mengingatkan bahwa sentra industri di Purbalingga, Boyolali, dan Klaten menghadapi tantangan serupa jika pemerintah tidak segera bertindak.
Menurut Fikri, perajin logam Tegal sebenarnya mampu menghasilkan produk berkualitas tinggi,
mulai dari suku cadang kendaraan hingga komponen infrastruktur seperti SUTET, klem, dan isolator.
Namun, pelaku industri lokal sering kali hanya menjadi pemasok tanpa memperoleh penguatan merek dan perlindungan usaha.
“Pemerintah harus menyelamatkan industri logam Jawa Tengah.
Jika kita tidak segera melakukan intervensi strategis, industri yang dulu menjadi kebanggaan daerah ini bisa benar-benar hilang,” ujar Fikri.
Fikri memastikan ia akan merumuskan seluruh aspirasi tersebut secara tertulis dan membawanya ke pembahasan di DPR RI.
Ia juga mendorong evaluasi regulasi agar negara memberi perlindungan lebih kuat bagi keberlangsungan industri nasional.(Red)

