26 Februari 2026

Penguatan Kewaspadaan Virus Nipah Jadi Fokus Netty Prasetiyani di Komisi IX DPR

Kawanindonesia.id// Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, menekankan pentingnya penguatan kewaspadaan nasional terhadap Virus Nipah, menyusul meningkatnya kasus di sejumlah negara.

Meski hingga saat ini belum ada kasus terkonfirmasi di Indonesia, Netty menilai kesiapsiagaan harus dilakukan secara terukur, sistematis, dan terkoordinasi antar instansi.

Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, dengan reservoir utama berupa kelelawar buah.

Penularan ke manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi atau konsumsi makanan yang terkontaminasi.

Gejala infeksi Virus Nipah dapat berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, peradangan otak, hingga koma, dengan tingkat kematian yang tinggi.


Netty mengapresiasi langkah pemerintah melalui Surat Edaran Kementerian Kesehatan yang memperketat pengawasan pelaku perjalanan internasional, barang impor, dan alat angkut dari negara terdampak.

Penerapan thermal scanner, pendataan melalui aplikasi Satu Sehat Health Pass,

serta kesiapsiagaan petugas kesehatan dinilai sebagai langkah tepat untuk mencegah masuknya virus.

Menurut Netty, semua langkah ini bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan untuk memastikan sistem kesehatan nasional siap menghadapi potensi risiko.


Selain pengawasan di pintu masuk negara, Netty menekankan penguatan surveilans di fasilitas pelayanan kesehatan,

“mulai dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan, agar gejala Virus Nipah dapat terdeteksi sejak dini.

Sistem rujukan dan pelaporan yang cepat serta koordinasi antar instansi menjadi kunci keberhasilan pencegahan.


Netty juga mengingatkan pentingnya pendekatan one health, yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Indonesia memiliki interaksi tinggi antara manusia dan satwa liar, termasuk kelelawar,

sehingga pengawasan lalu lintas hewan, perlindungan ekosistem,

“serta edukasi masyarakat menjadi bagian strategi pencegahan.


Selain itu, ia mendorong penguatan riset dan kolaborasi lintas lembaga, termasuk BRIN dan institusi akademik, mengingat hingga kini belum tersedia obat maupun vaksin spesifik untuk Virus Nipah.

Edukasi publik mengenai konsumsi pangan aman, pengolahan produk hewani,

serta perilaku hidup bersih dan sehat menjadi langkah penting agar masyarakat memahami risiko tanpa menimbulkan ketakutan berlebihan.(Red)

Berita Terkait