26 Februari 2026

DPRD Jatim: Cegah Pernikahan Anak Demi Selamatkan Bonus Demografi

Kawanindonesia.id DPRD Jawa Timur menegaskan pencegahan pernikahan usia anak menjadi langkah krusial untuk menjaga peluang bonus demografi agar tidak berubah menjadi beban pembangunan. (31/01/26)

Tingginya angka pernikahan dini dinilai berpotensi menurunkan kualitas sumber daya manusia generasi mendatang.


Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas, menyebut fenomena tersebut sudah berada pada tahap mengkhawatirkan.

Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3AK) Jawa Timur, tercatat 7.590 anak menikah di bawah usia 19 tahun, dengan mayoritas pihak perempuan.


“Bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan jika generasi mudanya sehat, terdidik, dan produktif.

Jika banyak anak menikah dini dan putus sekolah, kita justru akan menghadapi beban sosial baru,” ujarnya.


Menurutnya, pernikahan anak membuat remaja kehilangan kesempatan menyiapkan masa depan melalui pendidikan dan pengembangan keterampilan.

Di sisi lain, risiko kesehatan ibu muda dan bayi meningkat, termasuk potensi stunting yang berdampak jangka panjang pada kualitas generasi.


Puguh menilai pencegahan tidak bisa dilakukan parsial. Diperlukan strategi lintas sektor yang melibatkan dunia pendidikan, keluarga, tokoh agama, hingga komunitas masyarakat.


Ia menekankan pentingnya menjaga anak tetap bersekolah serta memperkuat pendidikan karakter dan kesehatan reproduksi sejak dini.

Dengan pemahaman yang cukup, remaja diharapkan mampu mengambil keputusan hidup secara lebih matang.


“Salah satu pemicu utama adalah kehamilan di luar nikah. Karena itu edukasi dan pendampingan remaja harus diperkuat, bukan hanya pendekatan larangan,” katanya.


DPRD mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur menjadikan isu ini sebagai prioritas pembangunan sumber daya manusia.

Intervensi anggaran melalui APBD dinilai perlu diarahkan pada program pencegahan yang masif dan berkelanjutan, baik melalui sekolah formal maupun jalur nonformal seperti pesantren dan pusat kegiatan pemuda.


Selain itu, keluarga diminta menjadi benteng pertama perlindungan anak melalui komunikasi terbuka dan pengawasan yang sehat terhadap pergaulan remaja.


Jika upaya pencegahan dilakukan secara konsisten, Puguh optimistis Jawa Timur dapat menekan angka pernikahan anak sekaligus memaksimalkan potensi bonus demografi.


“Menyelamatkan anak-anak dari pernikahan dini berarti menyelamatkan masa depan Jawa Timur.

Mereka harus tumbuh sebagai generasi produktif, bukan terjebak tanggung jawab sebelum waktunya,” pungkasnya.(Leny)

Berita Terkait