Kawanindonesia.id Kebangkitan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Jawa Timur semakin terlihat dengan perpaduan dua kekuatan utama:
akses permodalan murah melalui program Prokesra dan kreativitas pemasaran digital anak muda.
Di tengah tekanan ekonomi dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah sektor, UMKM kembali menjadi penopang utama ekonomi kerakyatan.
Bedanya, kali ini pertumbuhan banyak didorong oleh generasi muda yang mahir memanfaatkan teknologi.
Anggota Komisi C DPRD Jawa Timur, Lilik Hendarwati, menyebut program Prokesra (Program Kredit Sejahtera) yang disalurkan melalui Bank UMKM Jawa Timur (BPR Jatim) sebagai instrumen penting untuk mempercepat pemulihan dan ekspansi usaha kecil.
“Permodalan sering menjadi hambatan utama UMKM untuk naik kelas.
“Dengan subsidi bunga besar dari pemerintah, pelaku usaha cukup membayar sekitar 3 persen per tahun dari bunga normal di atas 12 persen,” ujarnya dalam diskusi di Podcast DPRD Jatim.
Melalui skema tersebut, pelaku UMKM dapat mengakses pinjaman hingga Rp50 juta. Dana itu banyak dimanfaatkan untuk menambah alat produksi, memperbesar kapasitas usaha, hingga memperbaiki kualitas kemasan produk.
Menurut Lilik, suntikan modal ini menjadi semakin efektif ketika dipadukan dengan kemampuan anak muda dalam mengelola promosi digital.
“Anak muda sekarang bisa membuat produk lokal langsung dikenal luas lewat konten kreatif di media sosial. Tanpa harus punya toko besar, pasarnya bisa nasional bahkan internasional,” katanya.
Fenomena produk yang mendadak viral membuat banyak UMKM merasakan lonjakan pesanan dalam waktu singkat.
Namun ia mengingatkan, peluang itu harus diantisipasi dengan kesiapan produksi agar tidak mengecewakan konsumen.
Karena itu, akses pembiayaan murah seperti Prokesra dinilai penting agar pelaku usaha mampu memenuhi permintaan pasar saat momentum datang, mulai dari ketersediaan bahan baku, peralatan, hingga sistem pengemasan dan pengiriman.
Lilik juga menekankan pentingnya kualitas dan konsistensi. Viralitas di media sosial memang membuka pintu pasar, tetapi mutu produk dan pelayanan menentukan keberlanjutan usaha.
Ia mendorong pemerintah daerah terus memperluas pelatihan bagi UMKM, terutama di bidang desain kemasan, branding, dan strategi pemasaran digital agar kreativitas anak muda bisa terarah dan berdampak ekonomi nyata.
“Kombinasi modal murah dan kreativitas digital adalah bahan bakar kebangkitan UMKM Jatim. Tinggal bagaimana kita menjaga kualitas agar pelanggan terus kembali,” tegasnya.
Dengan dukungan pembiayaan yang ringan dan semangat inovasi generasi muda, UMKM Jawa Timur diyakini mampu bangkit lebih cepat, menjadi penyangga ekonomi daerah, sekaligus membuka lebih banyak peluang kerja baru bagi masyarakat.

