Delapan Tahun BPIP, Jacob Ereste Pertanyakan Dampak Nyata Pembinaan Ideologi Pancasila

Kawanindonesia web id – Penulis dan pemerhati sosial Jacob Ereste mempertanyakan dampak nyata program pembinaan ideologi yang dijalankan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) selama delapan tahun terakhir.

Menurutnya, sejak lembaga tersebut mulai beroperasi pada 2018 hingga 2026, masyarakat belum banyak melihat hasil konkret yang mampu memperkuat pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Jacob menyampaikan pandangannya menjelang peringatan Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni.

Ia menilai momentum tersebut seharusnya menjadi kesempatan bagi BPIP untuk menunjukkan capaian program yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat, bukan sekadar menghadirkan kegiatan seremonial.

“BPIP memiliki tugas yang sangat strategis dalam membina ideologi Pancasila.

Namun, masyarakat perlu mengetahui sejauh mana program-program yang dijalankan telah memberikan dampak nyata bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Jacob Ereste di Banten, Minggu (31/5/2026).

Menurut Jacob, BPIP dibentuk untuk membantu Presiden dalam merumuskan kebijakan, mengoordinasikan, dan menyinkronkan pembinaan ideologi Pancasila di seluruh Indonesia.

Selain itu, lembaga tersebut juga memiliki tugas melaksanakan pendidikan dan pelatihan serta memberikan rekomendasi terhadap regulasi yang dinilai bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Ia menjelaskan bahwa BPIP selama ini memiliki fokus pada penguatan pendidikan Pancasila, pengembangan ekonomi Pancasila, dan kaderisasi calon pemimpin bangsa yang berkarakter Pancasila.

Namun, Jacob menilai publik masih kesulitan menemukan hasil yang dapat dijadikan rujukan atau pedoman praktis dalam menerapkan nilai-nilai tersebut.

Jacob juga menyoroti pelaksanaan peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 yang mengacu pada Surat Edaran Kepala BPIP Nomor 2 Tahun 2026.

Menurutnya, pedoman yang diterbitkan lebih banyak mengatur tata cara pelaksanaan upacara dibandingkan upaya memperdalam pemahaman masyarakat terhadap filosofi dan nilai dasar Pancasila.

Ia berpendapat bahwa BPIP perlu menghadirkan lebih banyak program edukatif yang dapat membantu masyarakat memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila sesuai bidang pekerjaan, profesi, dan kehidupan sosial masing-masing.

Selain itu, Jacob mengaitkan pentingnya pembinaan ideologi dengan berbagai persoalan bangsa yang masih terjadi, seperti korupsi, lemahnya penegakan hukum, dan ketimpangan sosial.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan karakter kebangsaan yang lebih efektif dan berkelanjutan.“Pancasila tidak cukup diperingati melalui seremoni tahunan.

Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus hadir dalam kebijakan publik, pelayanan kepada masyarakat, serta perilaku para penyelenggara negara,” tegasnya.

Jacob juga menyoroti pentingnya mewujudkan keadilan sosial sebagaimana tercantum dalam sila kelima Pancasila.

Ia berharap seluruh lembaga negara, termasuk BPIP, dapat lebih aktif mendorong implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan nyata sehingga tujuan mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan berkeadaban dapat tercapai.

Menurutnya, peringatan Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi momentum refleksi nasional untuk mengevaluasi sejauh mana nilai-nilai dasar negara telah diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.(Kontributor Yacob)

Berita Terkait