Kawanindonesia.web.id // Operasi militer Israel di wilayah selatan Lebanon menuai sorotan internasional setelah laporan terbaru mengungkap kehancuran luas pada infrastruktur sipil di kawasan perbatasan.
Pendekatan yang disebut sebagai “model Gaza” dinilai memperparah dampak konflik, dengan puluhan desa dilaporkan mengalami kerusakan berat.
Laporan The New York Times pada 3 Mei 2026 menunjukkan bahwa Israel secara aktif menghancurkan area yang dianggap sebagai basis kelompok Hezbollah.
Melalui analisis citra satelit dan verifikasi visual, media tersebut menemukan sedikitnya dua lusin desa di dekat perbatasan mengalami kehancuran signifikan, termasuk kota Bint Jbeil.
Israel meningkatkan operasi darat sejak awal Maret 2026 setelah ketegangan dengan Hezbollah kembali memanas.
Militer Israel membentuk zona penyangga beberapa kilometer dari garis perbatasan dan terus melakukan serangan untuk menekan ancaman keamanan.
Pemerintah Israel menegaskan bahwa langkah ini bertujuan melindungi wilayahnya dari serangan lintas batas.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan dampak besar terhadap fasilitas sipil.
Serangan dan pembongkaran yang dilakukan pasukan Israel meratakan rumah warga, sekolah, tempat ibadah, serta infrastruktur penting lainnya.
Banyak wilayah kini berubah menjadi hamparan puing, menandakan skala kerusakan yang luas dan sistematis.
Sejumlah organisasi hak asasi manusia, termasuk Human Rights Watch, menyoroti potensi pelanggaran hukum humaniter internasional dalam operasi tersebut.
Mereka menilai penghancuran infrastruktur sipil tanpa alasan militer yang jelas dapat dikategorikan sebagai pelanggaran serius.
Di sisi lain, Israel menyatakan bahwa kelompok bersenjata kerap memanfaatkan area sipil untuk kepentingan militer,
sehingga menjadikan lokasi tersebut sebagai target sah dalam operasi.
Pernyataan ini menambah kompleksitas penilaian terhadap situasi di lapangan.
Konflik yang terus berlangsung ini juga memicu krisis kemanusiaan. Ribuan warga terpaksa mengungsi akibat meningkatnya intensitas serangan dan rusaknya tempat tinggal mereka.
Upaya gencatan senjata yang dimediasi berbagai pihak hingga kini belum mampu menghentikan eskalasi secara menyeluruh.
Dengan kondisi yang terus memburuk, komunitas internasional mendesak semua pihak untuk menahan diri dan memprioritaskan perlindungan warga sipil.
Namun, selama operasi militer masih berlangsung, wilayah selatan Lebanon berpotensi terus menghadapi kehancuran yang lebih luas.(Red)

