Kawanindonesia.web.id– Seniman ludruk Meimura atau Meijono mengajak generasi muda mengenali budaya tradisional melalui pementasan “Sambang Putu” di Sanggar Rumah Ilalang KSII, Karangnongko, Kelutan, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, Sabtu (25/4/2026).
Ia menampilkan konsep pertunjukan yang melibatkan anak-anak secara aktif di atas panggung.
Para peserta muda tidak hanya menjadi penggembira, tetapi ikut memainkan peran dalam alur cerita yang sarat makna.
“Melalui ‘Sambang Putu’, kami ingin anak-anak tidak hanya menonton, tetapi merasakan langsung proses berkesenian,” ujar Meimura.
Ia mengangkat tema hubungan antar generasi sebagai inti cerita.
Dalam perspektif ludruk Besut, sambang putu dimaknai sebagai simbol kesinambungan hidup, di mana cucu menjadi refleksi perjalanan masa lalu sekaligus harapan masa depan.
Pementasan dikemas dengan gaya khas ludruk yang penuh humor, parikan, dan sentuhan kritik sosial ringan.
Penonton diajak menikmati hiburan sekaligus memahami nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya.
Pendiri sanggar Agus R. Subagyo yang akrab disapa SanRego menegaskan pihaknya terus mendorong anak-anak untuk aktif berkesenian.
Ia menyebut Sanggar Rumah Ilalang sebagai ruang kreatif yang membuka peluang bagi generasi muda untuk berekspresi.
“Kami ingin anak-anak tumbuh dengan keberanian dan kecintaan terhadap budaya,” katanya.
Sanggar yang berdiri sejak tahun 2000 ini rutin menggelar berbagai kegiatan seni, mulai dari puisi, teater, tari, hingga musik dan seni rupa.
Sebagian besar peserta merupakan anak-anak usia sekolah dasar yang aktif berlatih dan tampil di berbagai kesempatan.
Pementasan di Nganjuk ini menjadi bagian dari rangkaian program “Besut Jajah Deso Milangkori” yang sebelumnya digelar di Surabaya, Sidoarjo, dan Jombang.
Selanjutnya, rombongan akan melanjutkan pentas ke Mojokerto.
Selain pertunjukan, panitia juga menggelar sarasehan budaya yang menghadirkan Autar Abdillah bersama SanRego untuk membahas peran seni tradisi di ruang publik.
Program ini merupakan bagian dari Pemberdayaan Ruang Publik Dana Indonesiana yang didukung Kementerian Kebudayaan RI.
Melalui kegiatan ini, Meimura berharap ludruk tetap hidup dan semakin dekat dengan generasi muda.
“Kalau anak-anak sudah terlibat, budaya tidak akan hilang. Justru akan terus berkembang,” pungkasnya.(Geng)
