Kawanindonesia.web.id – Eko Gagak angkat bicara terkait polemik pernyataan Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PKS,
Aboe Bakar Al-Habsyi, yang sempat menyinggung dugaan keterlibatan ulama dan pesantren di Madura dalam pusaran peredaran narkoba.
Ia mengimbau masyarakat Madura agar tidak terprovokasi dan tetap mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal.
Eko menegaskan bahwa masyarakat Madura memiliki karakter religius yang kuat serta menjunjung tinggi penghormatan terhadap ulama dan kiai.
Menurutnya, sikap memaafkan jauh lebih mulia daripada membalas pernyataan yang berpotensi menimbulkan konflik.
“Budaya Madura mengajarkan kita untuk tetap tenang, tidak mudah terpancing, dan mengedepankan musyawarah.
Memaafkan adalah marwah tertinggi,” ujar Eko dalam keterangannya, Kamis (23/4/2026).
Polemik ini bermula saat Aboe Bakar Al-Habsyi menyampaikan pernyataan dalam rapat dengar pendapat bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polri pada 7 April 2026.
Pernyataan tersebut memicu multitafsir dan dinilai sebagian pihak menggeneralisasi ulama serta pesantren di Madura.
Menanggapi hal itu, Aboe Bakar Al-Habsyi telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.
Ia mengakui bahwa pernyataannya keliru dan bersifat menggeneralisasi.
Permintaan maaf tersebut juga telah disampaikan langsung kepada para ulama dan tokoh masyarakat Madura dalam forum silaturahmi.
Eko Gagak menilai langkah klarifikasi dan permintaan maaf tersebut harus dihargai sebagai bentuk tanggung jawab moral.
Ia juga mengajak semua pihak untuk tidak memperkeruh suasana dengan narasi yang berpotensi memecah belah.
“Jangan sampai persoalan ini dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Kita harus tetap menjaga persatuan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa ancaman peredaran narkoba memang nyata, terutama di wilayah pesisir yang rawan menjadi jalur masuk.
Namun, menurutnya, ulama dan pesantren justru menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan dan pembinaan moral masyarakat.
Di sisi lain, Eko menyoroti adanya pihak-pihak yang mencoba menggiring opini melalui aksi-aksi yang dinilai berlebihan dan cenderung provokatif.
Ia meminta masyarakat agar lebih bijak dalam menyikapi informasi, terutama yang beredar di media sosial.
“Jangan mudah percaya pada narasi yang belum tentu benar. Kita harus tabayun dan menjaga kondusivitas,” katanya.
Eko kembali menegaskan bahwa nilai “Rampak Naong Bringen Korong” yang berarti hidup rukun, damai, dan bergotong royong harus terus dijaga oleh masyarakat Madura.
Ia optimistis, dengan semangat persaudaraan dan saling memaafkan, polemik ini dapat diselesaikan tanpa menimbulkan konflik berkepanjangan.
“Persatuan adalah kekuatan utama kita. Memaafkan bukan berarti lemah, tetapi justru menunjukkan kebesaran hati,” pungkasnya.(Red)

