Kawanindonesia.id Surabaya –07 Januari 2025 Penandatanganan surat permohonan maaf oleh Wakil Wali Kota Surabaya Armuji yang berlangsung di Auditorium Kampus Universitas Dr. Soetomo (UNITOMO), Selasa (6/1/2026), menuai sorotan tajam dari sejumlah tokoh masyarakat Surabaya. Peristiwa tersebut dinilai telah mencederai harga diri dan kehormatan arek Suroboyo.
Penandatanganan surat itu disaksikan langsung oleh Rektor UNITOMO yang disebut berperan sebagai mediator dalam pertemuan antara Wakil Wali Kota Surabaya dengan Organisasi Masyarakat (Ormas) MADAS. Surat tersebut ditandatangani sebagai bentuk permohonan maaf atas sejumlah hal yang dianggap merugikan ormas terkait.
Peristiwa yang terjadi di lingkungan kampus tersebut mengejutkan berbagai kalangan, terutama kelompok masyarakat yang mengusung semangat Arek Suroboyo WANI. Beberapa jam sebelum penandatanganan surat, kelompok ini juga menggelar konferensi pers menyikapi pelaporan Wakil Wali Kota Surabaya dan sejumlah warga ke Polda Jawa Timur oleh Ormas MADAS.
Tokoh masyarakat Surabaya sekaligus Ketua LSM MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, Heru, menilai kejadian tersebut sebagai preseden buruk dalam kehidupan sosial dan politik di Surabaya.
Ia menegaskan bahwa peristiwa tersebut tidak sekadar persoalan pribadi, melainkan menyangkut martabat Kota Pahlawan dan kehormatan pemimpinnya.
“Ini bicara soal harga diri Suroboyo, harkat dan martabat arek Suroboyo, serta kehormatan pemimpin Surabaya. Apa yang terjadi di UNITOMO sangat memalukan dan mencoreng citra Kota Pahlawan,” tegas Heru.
Pandangan senada disampaikan oleh tokoh masyarakat Surabaya lainnya, Drg. David. Ia mengecam tindakan Wakil Wali Kota Surabaya yang menandatangani surat permohonan maaf tersebut secara sadar. Menurutnya,
langkah tersebut justru melukai perasaan masyarakat Surabaya yang dikenal dengan karakter berani dan tegas.
“Tindakan itu menorehkan luka mendalam bagi arek Suroboyo. Semangat WANI yang selama ini menjadi identitas seolah dipertaruhkan,” ujar Drg. David.
Heru MAKI menambahkan, pasca peristiwa tersebut, muncul dinamika perlawanan sosial yang diperkirakan akan menguat dalam waktu dekat. Sebagai bentuk sikap, sejumlah tokoh masyarakat sepakat untuk menggelar Apel Siaga Arek Suroboyo WANI.
Apel siaga tersebut direncanakan berlangsung di halaman Balai Kota Surabaya dan diperkirakan akan dihadiri ribuan massa. Kegiatan itu dimaksudkan sebagai pernyataan sikap menolak premanisme serta mengecam keras narasi pengkotakan masyarakat berdasarkan suku atau kelompok tertentu.
“Suroboyo WANI akan menjadi narasi utama. Balai Kota adalah rumah rakyat Surabaya dan akan menjadi titik kumpul perlawanan moral terhadap praktik yang mencederai kehormatan kota ini,” kata Heru.
Selain rencana apel siaga, Heru MAKI bersama Drg. David, Mas Purnama, dan Mas Ruddy Gaol juga berencana mendatangi Kampus UNITOMO untuk meminta klarifikasi langsung kepada Rektor UNITOMO. Mereka mempertanyakan konsep dan desain pertemuan yang dinilai sepenuhnya digagas pihak kampus.
Heru menegaskan bahwa Rektor UNITOMO dinilai memiliki tanggung jawab moral atas peristiwa tersebut karena telah menjadi saksi dalam penandatanganan surat permohonan maaf.
“Ketika penandatanganan itu dilakukan secara sadar di hadapan Rektor UNITOMO, maka tanggung jawab moral tidak bisa dihindari,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Heru MAKI menyebut bahwa pasca peristiwa di UNITOMO, kondisi sosial Surabaya dinilainya berada dalam situasi yang tidak kondusif.
“Surabaya sementara ini tidak baik-baik saja. Ini harus menjadi perhatian bersama,” pungkasnya. (Len)

