Kawanindonesia.id,//,Kebijakan stimulus Ramadan–Lebaran senilai Rp12,8 triliun dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong pergerakan ekonomi daerah.
Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS, Amin Ak, menyatakan dukungannya terhadap paket kebijakan tersebut.
Stimulus yang digelontorkan pemerintah meliputi bantuan pangan, subsidi transportasi mudik,
“serta penerapan kebijakan Work From Anywhere (WFA) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan sebagian pekerja.
Menurut Amin, Ramadan dan Idulfitri merupakan momentum konsumsi terbesar dalam kalender ekonomi nasional sehingga intervensi fiskal pada periode ini sangat relevan.
“Konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 50 persen terhadap Produk Domestik Bruto. Ketika daya beli rakyat terjaga, maka stabilitas ekonomi nasional juga ikut terjaga,” ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, pergerakan masyarakat pada musim mudik tahun sebelumnya mencapai sekitar 146 juta orang.
Mobilitas dalam skala besar tersebut selalu memicu perputaran uang yang signifikan di berbagai daerah tujuan mudik.
Amin menjelaskan, arus dana yang dibawa pemudik akan menggerakkan sektor perdagangan, UMKM, transportasi lokal, hingga pariwisata.
Daerah-daerah seperti Jember dan Lumajang di Jawa Timur, misalnya,
diperkirakan akan merasakan dampak langsung dari meningkatnya konsumsi selama periode Lebaran.
“Uang berputar di pasar tradisional, toko kelontong, pelaku UMKM, dan jasa transportasi lokal. Ini efek pengganda yang sangat penting bagi ekonomi daerah,” jelasnya.
Ia juga menilai bantuan pangan berperan penting dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok yang biasanya mengalami kenaikan menjelang Lebaran.
Dengan intervensi pemerintah, tekanan inflasi musiman dapat ditekan sehingga masyarakat tetap memiliki ruang belanja.
Sementara itu, subsidi transportasi mudik membantu mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
Dengan biaya perjalanan yang lebih terjangkau, masyarakat memiliki sisa dana yang dapat dibelanjakan di kampung halaman, memperkuat konsumsi domestik dan menggerakkan ekonomi lokal.
Terkait kebijakan WFA, Amin menyebut langkah tersebut sebagai bentuk adaptasi untuk mengurai kepadatan arus mudik sekaligus menjaga produktivitas.
Fleksibilitas kerja memungkinkan masyarakat mengatur waktu perjalanan tanpa mengganggu pelayanan publik.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa stimulus Ramadan–Lebaran bersifat penopang jangka pendek. Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 6 persen secara berkelanjutan,
tetap dibutuhkan penguatan investasi produktif, hilirisasi industri, serta penciptaan lapangan kerja berkualitas.
“Yang terpenting, rakyat merasakan langsung manfaatnya: harga terkendali, mudik lebih terjangkau, usaha kecil ramai pembeli, dan ekonomi daerah bergerak.
Itulah esensi kebijakan fiskal yang berpihak pada rakyat,” pungkasnya(red)

