Mengubah Limbah Ikan Tambak Wedi Menjadi Terasi, Petis dan Ekonomi Baru Warga

Keterangan foto: Nelayan Tambak Wedi mengolah potensi hasil tangkapan menjadi produk bernilai ekonomi.

KawanIndonesia.web.id – Limbah ikan hasil tangkapan nelayan di kawasan Tambak Wedi, Kecamatan Kenjeran, Surabaya, menyimpan potensi ekonomi yang belum banyak dimanfaatkan.

Ikan yang selama ini tidak terserap pasar dan berakhir terbuang dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti terasi, petis, hingga pangan olahan khas pesisir.


Gagasan tersebut muncul dari perbincangan dengan sejumlah nelayan di kawasan hulu Kali Tebu, Tambak Wedi.

Aktivitas sederhana berupa jagongan setelah nelayan pulang melaut justru melahirkan berbagai gagasan mengenai pemberdayaan masyarakat pesisir dan pengembangan potensi ekonomi kampung.


M Isa Ansori, dalam catatannya, menyebut masyarakat Tambak Wedi memiliki banyak gagasan untuk mengembangkan kawasan mereka.

Salah satunya mengolah hasil tangkapan yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal.


Menurut cerita sejumlah nelayan, jumlah nelayan aktif di kawasan Tambak Wedi dan Kenjeran mencapai sekitar 90 orang. Setiap nelayan rata-rata membawa hasil tangkapan sekitar 10 kilogram dalam sekali melaut.


Dari jumlah tersebut, sekitar 2 kilogram per nelayan diperkirakan menjadi ikan yang tidak termanfaatkan atau terbuang.

Jika menggunakan hitungan sederhana itu, sekitar 180 kilogram ikan berpotensi terbuang setiap hari.
Dalam satu bulan, jumlahnya bisa mencapai sekitar 5,4 ton ikan.


Angka tersebut bukan merupakan data statistik resmi, melainkan perkiraan berdasarkan cerita para nelayan.

Namun, potensi itu menunjukkan adanya peluang untuk mengubah hasil tangkapan yang selama ini dianggap tidak bernilai menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat.


Jika ikan tersebut dihargai sekitar Rp1.000 per kilogram, potensi nilai ekonominya dapat mencapai sekitar Rp5,4 juta per bulan.


Nilai tersebut bukan satu-satunya manfaat yang bisa diperoleh. Pengolahan ikan dapat menciptakan mata rantai ekonomi baru yang melibatkan banyak pihak.


Nelayan dapat memperoleh pendapatan tambahan dari hasil tangkapan yang sebelumnya dibuang.

Warga, termasuk perempuan di kampung, dapat terlibat dalam proses produksi. Sementara itu, anak muda dapat mengambil peran dalam pengemasan, pembuatan merek, promosi hingga pemasaran melalui platform digital.


Pelaku UMKM juga dapat mengembangkan produk olahan tersebut menjadi oleh-oleh khas pesisir Surabaya.


Berpeluang Jadi Produk Khas Surabaya
Potensi tersebut semakin menarik jika dikaitkan dengan keberadaan terasi dan petis dalam kuliner Surabaya.


Terasi dan petis telah lama menjadi bagian dari berbagai makanan masyarakat Surabaya. Kedua produk tersebut hadir dalam sambal, rujak, lontong, kerupuk dan beragam kuliner lainnya.


Namun, ketika masyarakat mencari terasi dan petis sebagai produk khas Surabaya, produk yang beredar justru banyak berasal dari daerah sekitar, seperti Tuban, Sidoarjo, Madura dan wilayah lainnya.


Kondisi itu menunjukkan bahwa pasar produk olahan hasil laut sebenarnya sudah tersedia.

Tantangannya adalah bagaimana masyarakat pesisir Surabaya dapat mengembangkan produk sendiri dengan memanfaatkan potensi yang ada di lingkungannya.


Tambak Wedi dan kawasan Kenjeran memiliki modal dasar tersebut.

Kawasan ini memiliki nelayan, hasil tangkapan laut, masyarakat pesisir serta akses terhadap pasar wisata.


Pengembangan produk olahan ikan juga dapat memperkuat identitas ekonomi kawasan.
Wisatawan yang berkunjung ke Kenjeran nantinya tidak hanya menikmati suasana pantai, tetapi juga dapat membawa pulang produk khas seperti “Terasi Kenjeran” atau “Petis Tambak Wedi”.


Produk tersebut tidak sekadar menjadi barang dagangan, tetapi juga dapat membawa cerita mengenai nelayan, kampung pesisir dan kehidupan masyarakat Surabaya.


Pemerintah Perlu Membuka Akses
Pengembangan potensi tersebut tidak berarti pemerintah harus mengambil alih kegiatan ekonomi warga.

Pemerintah dapat berperan sebagai fasilitator dengan menyediakan teknologi pengolahan, pendampingan, legalitas produk, akses pembiayaan, kemasan, promosi serta membuka jaringan pasar.


Nelayan tetap menjalankan aktivitas melaut,Warga dapat mengolah hasil tangkapan. Anak muda mengembangkan pemasaran digital.

Pelaku usaha memperluas jaringan pasar, sedangkan pemerintah memberikan dukungan yang dibutuhkan.


Pola tersebut dapat menjadi bentuk nyata ekonomi sirkular di tingkat kampung,”
Konsep ekonomi sirkular tidak hanya berbicara mengenai pengurangan limbah, tetapi juga bagaimana masyarakat memanfaatkan kembali sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai.


Dalam konteks Tambak Wedi, ikan yang selama ini terbuang dapat masuk kembali ke dalam rantai ekonomi melalui pengolahan menjadi produk pangan.


Gagasan pemberdayaan nelayan dan pengembangan kawasan tersebut sebelumnya juga telah dibicarakan dengan sejumlah pihak di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya.


Kini, gagasan tersebut kembali menemukan relevansinya seiring meningkatnya perhatian terhadap ekonomi sirkular dan pemberdayaan masyarakat.


Masyarakat sebenarnya tidak kekurangan gagasan,Mereka hanya membutuhkan ruang untuk menyampaikan, mengembangkan dan menjalankan gagasan tersebut.


Karena itu, pengembangan produk olahan ikan dari Tambak Wedi dapat menjadi salah satu contoh bahwa potensi ekonomi tidak selalu berada jauh dari masyarakat.


Surabaya memiliki garis pantai, nelayan, hasil laut dan pasar yang besar.

Tantangannya adalah menghubungkan seluruh potensi tersebut agar memberikan nilai tambah langsung bagi masyarakat.


Jika dikelola secara serius, ikan yang selama ini dianggap limbah bukan hanya dapat mengurangi persoalan lingkungan, tetapi juga membuka peluang pekerjaan, meningkatkan pendapatan warga, memperkuat UMKM dan melahirkan produk khas Surabaya.


M. Isa Ansori
Kolumnis, Pengajar dan Praktisi Transaksional Analisis, Dewan Penasehat LHKP PD Muhammadiyah Surabaya dan Wakil Ketua ICMI Jatim(geng)

Berita Terkait