Spiritualitas Pengasah Hati, Jacob Ereste Ajak Pemimpin Lebih Peduli pada Nasib Rakyat

Kawanindonesia.web.id– Pengamat sosial dan penulis, Jacob Ereste, mengajak para pemimpin untuk mengedepankan nilai-nilai spiritualitas dalam menjalankan amanah kepemimpinan. Menurutnya, spiritualitas tidak hanya membentuk karakter dan akhlak, tetapi juga mengasah kepekaan hati terhadap penderitaan serta harapan rakyat.


Dalam tulisan reflektifnya yang disampaikan di Banten, 13 Juni 2026, Jacob Ereste menegaskan bahwa spiritualitas merupakan fondasi utama bagi terbentuknya etika, moral, dan akhlak yang mulia.

Ia menilai nilai-nilai tersebut sangat penting agar seorang pemimpin tidak terjebak dalam sikap egois, penyalahgunaan kekuasaan, maupun perilaku yang merugikan masyarakat.


Menurut Jacob, etika menjadi pintu masuk bagi terbentuknya moralitas yang sehat. Dari moralitas yang baik, lahirlah akhlak yang kuat dan mampu membimbing seseorang dalam mengambil keputusan secara bijaksana.

Karena itu, spiritualitas harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang pemimpin.


Ia menekankan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memberikan nasihat atau janji kepada rakyat.

Pemimpin harus mampu menunjukkan keteladanan melalui tindakan nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.


“Pemimpin tidak boleh hanya pandai berbicara. Ia harus mampu memberi contoh dan menjadi contoh bagi rakyat yang dipimpinnya,” tulis Jacob Ereste.
Lebih lanjut, Jacob mengingatkan bahwa sejarah telah menunjukkan bagaimana rakyat selalu menghormati pemimpin yang adil dan bijaksana.

Sebaliknya, rakyat dapat melakukan penolakan terhadap pemimpin yang bertindak zalim dan mengabaikan kepentingan masyarakat.


Ia mengutip petuah lama yang masih relevan hingga saat ini, yakni “raja alim disembah, raja zalim disanggah.

” Menurutnya, ungkapan tersebut mengandung pesan moral bahwa kekuasaan harus dijalankan dengan keadilan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab.


Jacob juga menyoroti pentingnya kepekaan sosial dalam kepemimpinan.

Ia mengingatkan para pemimpin agar tidak menutup mata terhadap kesulitan yang dihadapi masyarakat, terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.


Menurutnya, pemimpin yang memiliki spiritualitas kuat akan mampu mendengar keluhan rakyat, memahami kegelisahan mereka, serta merasakan penderitaan masyarakat yang masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.


“Pemimpin yang bijaksana harus mampu mendengar derita, keluh kesah, dan harapan rakyatnya. Mereka harus hadir untuk memberikan solusi, bukan sekadar janji,” tegasnya.


Melalui pandangannya tersebut, Jacob Ereste berharap para pemimpin di berbagai tingkatan dapat menjadikan spiritualitas sebagai kompas moral dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab.

Dengan demikian, kepemimpinan yang lahir tidak hanya berorientasi pada kekuasaan, tetapi juga pada pengabdian dan kesejahteraan rakyat.(Kontributor Yacob)

Berita Terkait