Kawanindonesia.web.id – Pentas ludruk tradisional kembali menggeliat di Sidoarjo dengan mengangkat isu lokal yang dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir.
Lakon bertema konflik tambak antara juragan bandeng dan juragan udang sukses menarik perhatian penonton dalam pertunjukan Ludruk Besutan di Dewan Kesenian Sidoarjo, Jumat malam (10/4/2026).
Seniman ludruk Meimura (Meijono) memimpin pementasan tersebut sebagai bagian dari program pentas keliling bertajuk “Besut Jajah Deso Milangkori” yang menyasar 10 kota di Jawa Timur.
Ia menghadirkan cerita yang relevan dengan kondisi lokal, khususnya dinamika usaha tambak yang menjadi salah satu sektor penting di wilayah Sidoarjo.
Dalam pementasan ini, Meimura beradu peran dengan Robet Bayonet dan Didik Jogoyudo. Mereka menghidupkan suasana dengan dialog khas ludruk yang penuh humor, kritik sosial,
serta sindiran tajam terhadap persoalan ekonomi masyarakat tambak.
Meimura menegaskan bahwa setiap kota yang disinggahi selalu mendapat lakon berbeda.
Ia menyesuaikan cerita dengan isu yang berkembang di daerah tersebut agar ludruk tetap relevan dan dekat dengan penonton.
“Kami ingin ludruk tidak sekadar hiburan, tetapi juga menjadi media refleksi sosial. Apa yang terjadi di masyarakat, itu yang kami angkat ke panggung,” ujar Meimura.
Ia juga menjelaskan bahwa pentas sebelumnya di kawasan Gunung Anyar, Surabaya, mengangkat persoalan pencemaran sampah di pantai.
Dengan konsep tersebut, ludruk tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga ikut menyuarakan problem nyata yang dihadapi masyarakat.
Program pentas keliling ini merupakan bagian dari inisiatif Pemberdayaan Ruang Publik yang digagas oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Program ini mendorong seniman untuk memanfaatkan ruang publik sebagai panggung ekspresi budaya.
Sebagai kesenian rakyat yang menjadi cikal bakal ludruk, Besutan tampil sederhana tanpa bergantung pada panggung besar atau perlengkapan kompleks.
Meimura menilai kesederhanaan itu justru menjadi kekuatan utama untuk menjaga eksistensi ludruk di tengah perkembangan zaman.
“Ludruk bisa dimainkan di mana saja. Tidak harus di gedung besar. Yang penting pesan dan nilai budayanya sampai ke masyarakat,” tegasnya.
Pementasan ini juga menghadirkan penampilan kelompok karawitan sebelum lakon utama dimulai.
Setelah pertunjukan, panitia menggelar sarasehan dengan menghadirkan Arif Rofiq dan Ribut Wijoyo sebagai narasumber, guna membuka ruang dialog antara seniman dan penonton.
Setelah Sidoarjo, rombongan akan melanjutkan pentas ke sejumlah kota lain seperti Jombang, Nganjuk, Mojokerto, Kediri, Madiun, Malang, dan Jember dalam rangkaian tur budaya yang diharapkan mampu menghidupkan kembali minat masyarakat terhadap ludruk tradisional. (Geng)
